Selasa, 22 November 2011

Prof. Dr. irwan Prayitno, MSc


Ia seorang politisi yang memiliki komitmen moral yang dilandasi ajaran agama yang dianutnya. Karir politik Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Reformasi (Partai Keadilan), ini memang berawal dari dakwah di kampus-kampus. Ketika pendirian PK, ia masih kuliah S-3 di Universitas Putra Malaysia (UPM), dan dipercaya menjadi Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Kemudian dalam Pemilu 1999 terpilih menjadi anggota DPR dari Sumatera Barat.
Tidak selamanya mempunyai indeks prestasi (IP) rendah berakibat buruk. Hal itu dibuktikan oleh Dr. Irwan Prayitno, M.Sc yang lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta dengan IP 2,02 saja, alias hanya cukup “lepas makan”. Angka itu tipis 0,02 saja di atas syarat minimal 2,00.
Waktu yang dia butuhkan untuk meraih sarjana itu pun cukup panjang, enam tahun sejak 1982 hingga 1988. Kader Partai Keadilan (Sejahtera) ini beralasan, dia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk mengajar, berdakwah, berdiskusi, serta mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Menikah dengan Hj. Nevi Zuairina tahun 1985 dengan tanpa modal apa-apa, pria Minang kelahiran Jogjayakarta 20 Desember 1963 ini kini dianugerahkan sembilan orang anak.
Begitu lulus sarjana psikologi UI yang terngiang di pikirannya justru ingin berdakwah. Tawaran gaji besar dari perusahaan semen terbesar di Padang, misalnya, ditampiknya. Keyakinan untuk terus berdakwah, menurutnya, bila dilandasi dengan nawaa itu demi menggapai Islam kaffah akan menjadi besar. Semangatnya bersama teman-teman lalu terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial. Hidup Irwan kemudian dipenuhi warna-warni Adzkia.
Di saat Adzkia mulai menapak maju di kota Padang, Irwan tahun 1995 justru terdampar ke negeri jiran Malaysia untuk melanjutkan pendidikan S-2. Awalnya, banyak universitas yang menolak mengingat IP-nya rendah 2,02 sebelum akhirnya Universitas Putra Malaysia (UPM) di Serdang, Kuala Lumpur mau menampung dengan status percobaan satu semester. Namun Irwan malah menantang Prof. Hasyim Hamzah, Pembantu Rektor UPM dirinya bisa menyelesaikan studi tiga semester atau satu setengah tahun dari waktu normal enam semester atau tiga tahun.
Tantangan itu terbukti dan memberinya hak menyandang gelar Msc bidang Human Resources Development. Kuliah S-3 pun di kampus sama dicapainya dengan gemilang. Irwan lulus S-2 dan S-3 bidang Training Management kali ini dengan nilai A semua, kecuali mata kuliah mengenai hukum perempuan. Itupun hanya akibat berbeda pendapat dengan dosennya.
Yang menarik, selama pergulatannya di Negeri Jiran Irwan Prayitno harus bekerja keras untuk menghidupi istri dan lima anak, saat itu, yang ikut diboyongnya. Dibutuhkan minimal 2.000 hingga 3.000 ringgit Malaysia perbulan, 10 hingga 20 persen diantaranya untuk kuliah. Sumber pendapatan tak lain dari berdakwah dan berceramah sampai ke London sekalipun. Pesawat terbang atau kereta api adalah tempat biasa untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Itupun masih belum melepaskannya dari pekerjaan rutin di rumah mencuci pakaiannya, istri, dan anak-anak.
Mata rantai karir politik Irwan Prayitno sebagai buah reformasi melulu adalah dakwah dari kampus ke kampus. Dia merasakan semuanya berawal dari fenomena di akhir 1980-an saat mulai muncul satu dua pelajar-mahasiswa yang menutup aurat tubuhnya, sesuai syariat Islam. Fenomena itu semakin marak di era 1990-an bahkan menjadi modis dan enak dipandang mata sehari-hari. Fenomena sama juga terjadi di kampus-kampus yaitu dakwah, sebuah aktivitas yang intens digeluti Irwan.
Para aktivis dakwah ketika itu paham bahwa Soeharto naik ke panggung kekuasaan adalah atas dukungan umat Islam yang tergabung dalam berbagai elemen seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Gerakan Pemuda Islam (GPI), dan lain-lain. Namun setelah berkuasa, kata Irwan, Soeharto tidak pandai berterimakasih bahkan sang jenderal ini cenderung memusuhi kekuatan politik umat Islam.
Antar kedua kekuatan mulailah bergesek, seperti saat pengajuan RUU Perkawinan yang banyak bertentangan dengan syariat Islam. Lalu berlanjut ke penentangan terhadap Tap MPR tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Terakhir mengerucut ke puncak saat peristiwa Tragedi Tanjung Priok, 12 September 1984 yang menelan banyak korban jiwa dari umat Islam.
Irwan merasakan pula gaya represif pemerintahan Soeharto mulai merasuk ke perguruan tinggi. Semua ormas kemahasiswaan termasuk HMI dan PMII digusur dari kampus melalui kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK). HMI dan yang lainnya dipaksa pula untuk menerima azas tunggal Pancasila. “Kendati amat mencintai HMI, saya dan begitu pula teman-teman lainnya, akhirya harus mengucapkan selamat tinggal pada HMI karena telah menerima azas tunggal itu,” kenang Irwan.
Fase pergerakan baru justru mulai bermula. Kata Irwan, untuk meneruskan perjuangan mereka beralih ke mesjid di kampus-kampus sebagai satu-satunya media mengaktualisasikan potensi memperjuangkan Islam. Sebab ormas-ormas sudah dikebiri dengan azas tunggal Pancasila. Di Kampus UI Salemba aktivitas dakwah dibangun di mesjid Aref Rahman Hakim.
Di ITB Bandung berpusat di mesjid Salman, yang terkenal dengan Latihan Mujahid Dakwah dan Latihan Dasar Kepemimpinan (LMD/LDK) yang digerakkan oleh Dr. Imaduddin Abdul Rachim, M. Hatta Radjasa, dan lain-lain. Suasana serupa berkembang pula di mesjid AI-Gifari IPB Bogor, begitu pula di mesjid kampus lain seperti Unand dan IKIP Padang, UGM, Unibraw, Unpad dan lainnya.
Orientasi kegiatan mereka masih pada pembinaan aqidah dan akhlaq Islamiyah. Seperti pengajaran baca aI-Quran, mentoring agama, studia lslamika, serta konsultasi keagamaan. Khusus tentang LMD/LDK di Mesjid Salman ITB Bandung, model ini terkenal dengan pelatihan dakwah yang dilakukan dengan cara pembentukan kelompok-kelompok kecil dan dibimbing seorang mentor untuk mebicarakan segala segi kehidupan dari sudut pandang Islam.
Ketika LMD/LDK kian menunjukkan kekuatannya mulailah dibangun jaringan antar perguruan tinggi bernama Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Pertemuan pertama diselenggarakan di Masjid Salman ITB (1986), disusul di Masjid Al-Ghifari IPB (1987) yang menghasilkan khittah yakni petunjuk perjuangan LDK. “Dalam sosialisasi khittah inilah kemudian saya sering ke Padang, juga ke Padang Panjang, Bukitinggi, Solok dan Payakumbuh,” kata Irwan.
Pada FSLDK Nasional ke-1O di Malang 29 Maret 1998 lah dideklarasikan berdiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim hdonesia (KAMMI), yang di kemudian hari menjadi jaringan yang membesarkan Partai Keadilan (PK). PK sendiri akhirnya dideklarasikan pada Ahad, 9 Agustus 1998 di halaman Mesjid Al Azhar, Jakarta. Jaringan aktivis dakwah kampus yang digerakkan Irwan dan teman-teman terus menguat dan mengeras bahkan menjadi lembaga yang berjaringan nasional dan intemasional.
Ketika pendirian PK Irwan masih kuliah S-3 di UPM, karena itu, dia dipercayakan menjadi Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Kelompok-kelompok pengajian mahasiswa asal Indonesia di Malaysia yang sudah lama berjaringan dengan dakwah kampus di Indonesia ikut langsung bergabung ke PK.
Masih mempersiapkan ujian akhir S-3 Irwan tiba-tiba disodori oleh DPP PK dari Jakarta formulir untuk diisi yang ternyata adalah formulir calon legislatif (Caleg). Pulang ke Sumatera Barat untuk kampanye pemilu 1999 dia masih dalam status ujian akhir S3. Karena itu, usai pemilu dia kembali ke UPM Malaysia dan lulus dengan gelar PhD bidang Traini
ng Management. Nah, ketika kembali dari Malaysia kepada Irwan telah tersedia sebuah kursi DPR dan ruangan di Fraksi Reformasi.
“Kedekatan kita dengan Pak Amien Rais, juga melihat wawasan serta mengenal mereka secara prbadi seperti Pak Fatwa, Pak Luthfi, termasuk juga Pak Hatta Rajasa yang mantan aktivis LDK Salman ITB, maka kami berkesimpulan tidak ada salahnya bergabung ke PAN di F-Reformasi,” jelas Irwan. Pilihan itu tidak salah. F-Reformasi bahkan mempercayakan amanat ke Irwan untuk harus memimpin Komisi VIII DPR RI.
Bahkan Irwan sudah dua periode dipercaya sebagai Ketua Komisi VIII. Awalnya duduk di kursi DPR bagi Irwan cukup mengagetkan sebab fraksi mengamanatkannya menjadi Ketua Komisi VIII. Walau sebenarnya kagetan sebab sejak semula tidak begitu paham mengenai politk praktis kecuali tentang dunia dakwah di kampus-kampus, Irwan sangat bersyukur sebab hampir semua teman-teman komisi menyenanginya.
“Mungkin karena bagi mereka saya orangnya lugu,” aku Irwan, yang merasa tidak mempunyai interest tertentu dalam setiap memimpin rapat dan sidang-sidang. Bagi Irwan, dalam memimpin rapat dan sidang kalau ada yang benar akan didukung walau itu pendapat dari anggota PDI-P. Tapi kalau ada yang salah tetap saya cecar walaupun itu dari PPP.
Komisi yang dipimpinnya tergolong basah, antara lain membidangi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Riset dan Teknologi (Ristek), Lingkungan Hidup, dan badan-badan seperti BPPT, Batan, Lapan, Dewan Riset, dan lain-lain. Dipercaya sebagai ketua, itu dipandangnya karena kepribadian dan sikapnya yang masih lugu masih menarik kepercayaan fraksi dan anggota dewan. “Bahkan, dikalangan pers nasional pun Alhamdulillah saya sering diminta menjadi narasumber,” akunya mencoba mengukur tingginya kredibilitas para narasumber seperti dirinya, Hatta Rajasa, atau Pramono Anung.
RISET:
1987 Persepsi Dan Sikap Pembeli (sebagai asisten peneliti, di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia).
1988 Disonansi KognitIf Pada Mahasiswa Alumni Pesantren Terhadap Metode Pengajaran Di Perguruan Tinggi Umum (sebagai peneliti, di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia).
1991 Kiat Tepat & Siswa Menembus UMPTN (sebagai peneliti di LPKK ADZKIA, Padang).
1993 Modifikasi Tes Minat Terhadap Pemilihan Jurusan di PTN (sebagai peneliti di LPKK ADZKIA).
1994 Pola Hubungan Pasangan Suami-Istri Muda, (sebagai peneliti di Yayasan Al-Kahfi, Padang).
1995 Suatu Studi Kasus di PORIM, mengenai :
• Perlaksanaan Sistem Kompensasi
• Perlaksanaan Analisa Jabatan
1996 Hubungan Personaliti Belia dengan Disiplin Ibu Bapa (sebagai peneliti dan pelajar)
1996 Perbedaan Personaliti Belia SMU Padang (sebagai peneliti dan pelajar)
1996 Kajian Kualitatif: Socially Sensitive Research to International Student in UPM (sebagai peneliti dan pelajar)
1998 Model Pengembangan Sumber Manusia di Industri. Suatu Kajian Literatur Konsep Diri Pelajar Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
1998 Budaya Membaca di Kalangan Pelajar Sekolah Menengah Kajang (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
1998 Disiplin Ibu Bapa dan Hubungan Ibu Bapa dengan Anak (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
1998 Peranan Pendidikan Prasekolah Islam di TADIKA ABIM sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
1999 Pengukuran Psikologi dan Aplikasinya dalam Aktiviti Pembangunan Sumber Manusia
1999 Membangun Pengukuran Psikologi : Inteligensi, Minat dan Personaliti
1999 Aplikasi Pengukuran Psikologi di dalam Industri
KARYA TULIS:
1. Irwan Prayitno, Strategi Menembus UMPTN. LPKK Adzkia, Padang, 4 April 1992.
2. Irwan Prayitno, Sebab Munculnya Gangguan Pada Diri Remaja dan Cara Mengatasinya , LPKK Adzkia, 25 Okt. 1992.
3. Irwan Prayitno, Peranan Industri Makanan dan Perilaku Masyarakat dalam Memenuhi Gizi Keluarga, DEPKES, Padang, 25 Nov.1992.
4. Irwan Prayitno, Wanita Karir. Konflik dan Alternatif Pemecahannya, IBI dan Organisasi Wanita, Padang, 15 Des. 1992.
5. Irwan Prayitno, Motif Berumahtangga dan Rumah Tangga Ideal, DPD KNPI, Sumatera Barat, l6 Januari 1993.
6. Irwan Prayitno, Peranan dan Tanggung jawab Mahasiswa, F.K. Robbani, Universitas Andalas, 3 Feb.1993
7. Irwan Prayitno, Peran Guru BP di Tengah Era Kompetitif Pendidikan dan Era Globalisasi, SKR-BKKBN, Sumbar, 12 Feb.1993.
8. Irwan Prayitno, Kiat Menjatuhkan Pilihan yang Tepat di UMPTN LPKK Adzkia, 2 Juli 1993.
9. Irwan Prayitno, Managemen TPA/MDA. BKPMI, Sumbar, 5 Nov.1993.
10. Irwan Prayitno, Peranan Generasi Muda sebagai SDM dalam mengisi PJPTII,AKKES, DEPKES, Sumbar, 11 Nov.1993.
11. Irwan Prayitno, Generasi Muda dan Kehidupan Berkeluarga, SMF Syariah, lAINImam Bonjol, Padang, 13 Nov.1993.
12. Irwan Prayitno, Pengaruh Globalisasi Informasi Terhadap Kehidupan Pemuda, IKIP Padang, 2 Des. 1993.
13. Irwan Prayitno, Sikap dan Usaha Peningkatan Kepedulian Masyarakat Terhadap Penyandang Cacat, YPAC, SUMBAR, 29 Jan.1994.
14. Irwan Prayitno, Achievement Motivation Training, Darul Hikmah, Lampung, 5 Juni 1994.
15. Irwan Prayitno, Program Strategi Menembus UMPTN, LPKK Adzkia, Padang,6 Agustus 1994.
16. Irwan Prayitno, Perang Intelektual di Tengah Kehidupan Kampus, lAIN Imam Bonjol Padang, 12 September 1994
17. Irwan Prayitno, Masa Anak Mewarnai Masa Dewasa, YARSI, Bukit Tinggi, 22 Okt. 1994.
18. Irwan Prayitno, Urgensi Pendidikan Masa Anak dan Pra Lahir dalam Mengantisipasi Pendidikan Masa Berikutnya, S.M.F. Tarbiyah, lAIN Imam Bonjol, Padang, 12 Nov.1994.
19. Irwan Prayitno, Kiat Sukses Mengakrabkan Anak dengan Islam. PT Indosat. Medan 18 Nov.1994
20. Irwan Prayitno, Tantangan dan Tanggung Jawab Mahasiswa di Era Globalisasi, Fak.Teknik, Universitas Sumatra Utara, Medan, 19 Nov.1994.
21. Irwan Prayitno, Pentingnya Managemen dalam Dakwah, Wafi Coll., Padang, 4 Des.1994.
22. Irwan Prayitno, Tentang Keputrian: Problematika, Pemecahan dan Pemfungsian, Wafi Coll., Padang, 6 Des. 1994.
23. Irwan Prayitno, Persiapan Dini Menghadapi Ujian, LPKK Adzkia, 7 Des. 1994.
24. Irwan Prayitno, Revitalisasi Peranan Wanita S.M.F. MIPA Universitas Andalas,Padang, 27 Des. 994.
25. Irwan Prayitno, Politik Zionis Terhadap Negara Berkembang, YPD Al-Madani,Padang, 2 Jan. 1995.
26. Irwan Prayitno. Jamaah Dakwah Islamiyah Sebagai Organisasi Pendidikan Pengembangan. Fakulti Pendidikan UPM, 1996
27. Irwan Prayitno. Prinsip dan Amal Pendidikan Pengembangan di dalam Sirah Nabawiyah. Fakulti Pendidikan UPM, 1996
28. Irwan Prayitno. Akhlaq Da’I (pengembangan) pada Diri Rasulullah SAW. Fakulti Pendidikan UPM, 1996
29. Irwan Prayitno. Program Latihan Pengembangan Sikap Positif di BRI. Fakulti Pendidikan UPM, 1996
30. Irwan Prayitno. Perbandingan Teori-Teori Perkembangan Kerjaya Fakulti Pendidikan UPM, 1996
31. Irwan Prayitno. Penilaian Psikologi di Dalam Perkembangan Kerjaya. Fakulti Pendidikan UPM, 1996
32. Irwan Prayitno. Falsafah dan Konsep Pengujian dan Pengukuran dalam Bimbingan dan Kaunseling Fakulti Pendidikan UPM, 1996
33. Irwan Prayitno. Problem Kehidupan Wanita Bekerja. Fakulti Pendidikan UPM, 1996
34. Irwan Prayitno. Kursus Kerjaya Bagi Pelajar-Pelajar Sekolah Menengah. Fakulti Pendidikan UPM, 1997
35. Irwan Prayitno. Profil Personaliti Belia SMU Padang. Fakulti Pendidikan UPM, 1997
36. Irwan Prayitno. Laporan Aktiviti Kaunselor di PT Semen Padang. Fakulti Pendidikan UPM, 1997
37. Irwan Prayitno. DPR Lembaga Kontrol bukan Oposisi, Republika, 3 Desember 1999
38. Irwan Prayitno. Isu Suap dan Korupsi Anggota DPR, Republika, 24 Desember 1999
39. Irwan Prayitno. Kenaikan Listrik dan BBM, Siapa yang menjerit? Tabloid Tekad No.17/Tahun II 28 Februari - 5 Maret 2000
40. Irwan Prayitno. Subsidi, Penghematan Konsumsi dan Kenaikan Harga BBM, Kompas, 12 April 2000
41. Irwan Prayitno. Beban Rakyat di Balik Kontrak Listrik Swasta, Republika
42.
Irwan Prayitno. Dilema Kenaikan Tarif Listrik. Republika
43. Irwan Prayitno. Bagaimana Mengadopsi Ketentuan Protokol Keamanan Hayati dalam Peraturan/Perundang-undangan di Indonesia, Seminar Yayasan Kehati, 30 Agustus 2000
44. Irwan Prayitno. Menghadapi Kenaikan Harga BBM, Republika, 16 September 2000
45. Irwan Prayitno. Pengelolaan Energi Nasional untuk Kemakmuran Rakyat Menuju Pasar Listrik Kompetisi, Seminar PLN PJB I, 28 September 2000
46. Irwan Prayitno, Indonesia Today, Seminar Trends in Indonesia: Visions for Indonesia Future, ISEAS, 4 Mei 2001
47. Irwan Prayitno. Tanggapan terhadap Pelaksanaan Propenas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Rapat Kerja Teknis Renstra 2002 - 2004 Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan, Kantor Menneg LH, 5 Juni 2001
48. Irwan Prayitno, Masa Depan Industri Pertambangan dalam Era Otonomi Daerah, Diskusi Pertambangan Kongres Ikatan Alumni Tambang ITB 2001, Aula Barat ITB, Bandung 29 Juni 2001
49. Irwan Prayitno. Legislative Role of the Indonesian House of Representatives in Indonesia’s Legal Reform - An Overview of the Energy Sector, Seminar Houston Energy Dialogue 2001, Bimasena dan Konsul Jenderal RI di Houston, Houston, USA 24 September 2001
50. Irwan Prayitno, Urgensi dan Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan Islam, Seminar Nasional Musabaqoh Al-Qur’an Nasional Telkom 2002, Implementasi Ahlaq Qur’ani, Bukittinggi, 11 Maret 2002
51. Irwan Prayitno, Indonesia and the Future of Islam, Panel Dialogue, The Future of Indonesia’s Islam: The Quest for an Equilibrium, Institute of Defense and Strategic Studies, Singapura, 17 Juni, 2002.
52. Irwan Prayitno, Menelisik Benefit LNG Tangguh, Media Indonesia, 30 Oktober 2002
53. Irwan Prayitno, Kenaikan Harga dan Peran DPR, Republika, 16 Januari 2003
54. Irwan Prayitno, Kebijakan Legislatif terhadap Good Governance, Diskusi Interaktif I Good Governance Sektor Ketenagalistrikan, Bimasena, Jakarta, 27 Januari 2003
SEMINAR/LOKAKARYA/TRAINING
1. Training Competency-Based Economics Through The Formation of Entrepreneurs(CEFE), GTZ Federal Republic of Germany, Technonet Asia (Singapore), 19 Desember1990 - 25 Januari 1991, sebagai peserta.
2. Seminar Strategi Menembus UMPTN, LPKK Adzkia, Padang, 4 April 1992, sebagai pembicara.
3. Seminar Psikologi Remaja, LPKK Adzkia, 25 Okt. 1992, sebagai pembicara.
4. Seminar Sehari dan Temu Ahli Dalam Rangka Hari HPS, DEPKES, Padang, 25 Nov.1992, sebagai pembicara.
5. Ceramah ILMIAH IBI dan Organisasi Wanita, Padang, 5 Des. 992, sebagai pembicara
6. Seminar Sehari Manajemen Rumah Tangga, DPD KNPI, Sumatera Barat, 16 Januari 1993, sebagai pembicara.
7. Seminar Sehari F.K. Robbani, Universitas Andalas, 3 Feb.1993, sebagai pembicara.
8. Lokakarya Pengembangan SKR-BKKBN, Sumbar, 12 Feb.1993, sebagai pembicara.
9. Seminar UMPTN, LPKK Adzkia, 2 Juli 1993, sebagai pembicara.
10. Assesment Centre Training, 7-8 Agustus, Jakarta 1993 , sebagai peserta
11. Lokakarya Penglola TPA/MDA, BKPMI, Sumbar, 5 Nov.1993, sebagai pembicara.
12. Ceramah Ilmiah Penyuluhan HKN Ke 29, AKKES, DEPKES, Sumbar, 11 Nov.1993, sebagai pembicara.
13. Seminar Sehari Generasi Muda dan Kehidupan Berkeluarga, SMF Syariah, lAIN Imam Bonjol, Padang, 13 Nov.1993, sebagai pembicara.
14. Seminar Sehari Tentang SDM Mahasiswa, IKIP Padang, 2 Des. 1993, sebagai pembicara.
15. Seminar Meningkatkan Kepedulian Masyarakat Terhadap Penyandang Cacat, YPAC, SUMBAR, 29 Jan.1994, sebagai pembicara.
16. Training of Trainer Achievement Motivation Training, Depnaker Padang, 7-12 Februari 1994, sebagai peserta
17. Training of Trainer Training Management Pengusaha Kecil, Depnaker Padang, 21-26 Februari 1994 sebagai peserta.
18. Training Management Supervision, Depnaker Padang, 7-12 Maret 1994, sebagai peserta.
19. Training Total Quality Control, Depnaker Padang, 4-9 April 1994, sebagai peserta.
20. Lokakarya Peningkatan Motivasi, Darul Hikmah. Lampung, 5-8 Juni 994, sebagai pembicara/pelatih.
21. Training Managemen Baitul Mal wa Al- Tamwil, Jakarta 5-8 Juli 1994, sebagai peserta
22. Seminar UMPTN, LPKK Adzkia, Padang, 6 Agustus 1994, sebagai pembicara.
23. Ceramah Iimiah, IAIN Imam Bonjol Padang, 12 September 1994, sebagai pembicara
24. Seminar Ilmiah Populer HUT RSI YARSI, Bukit Tinggi, 22 0 kt 94, sebagai pembicara.
25. Seminar Sehari Pendidikan Anak, S.M.F. Tarbiyah, lAIN Imam Bonjol, Padang, 12 Nov.1994, sebagai pembicara.
26. Ceramah Ilmiah Bulanan, P.T. Indosat, Medan l8 Nov.1994, sebagai pembicara.
27. Ceramah Ilmiah,Universitas Sumatra Utara, Medan, 19 Nov.1994, sebagai pembicara.
28. Seminar UMPTN, LPKK Adzkia, 7 Des. 1994, sebagai pembicara.
29. Seminar Hari Ibu, SM.F. MIPA Universitas Andalas Padang, 27 Des. 994, sebagai pembicara.
30. Training Pengembangan Sikap Positif. BRI Diklat Bagian Sumatra 1995 dan 1996, sebagai pelatih.
31. Training Peningkatan Motivasi TIMES, Kuala Lumpur, Ipoh, Penang, Kelantan, Johor, Melaka, N. Sembilan dll tahun 1997-1998, sebagai pembicara
32. Training Peningkatan Motivasi dan Keislaman, KIBAR United Kingdom 15-31 Desember 1998, sebagai pembicara.
33. National Democratic Institution. Training tentang Code of Etics DPR-RI, Hilton Jakarta, 28 Februari 2000, sebagai peserta
34. Dialog Kesempatan Terakhir Presiden Gus Dur : Merubah Sikap atau Dimundurkan, Forum Dialog Masyarakat Madani, Jakarta, 5 Agustus 2000, sebagai pembicara
35. Seminar Pemasyarakatan Protokol Keamanan Hayati, Yayasan Kehati, Jakarta, 30 Agustus 2000, sebagai pembicara
36. Seminar Sehari Pengembangan Bisnis Ketenagalistrikan Menuju Pasar Kompetisi, PLN PJB I, Surabaya, 28 September 2000, sebagai pembicara
37. Exclusive Roundtable Discussion Kewenangan Propinsi Riau dalam Pengelolaan CPP BLOK, Himpunan Pelajar Mahasiswa Riau, Jakarta, 18 Nopember 2000, sebagai pembicara
38. Dialog Publik Kebijakan Pencabutan Subsidi BBM dan Pengaruhnya terhadap Ekonomi Indonesia, Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Jakarta, 22 Maret 2001, sebagai pembicara
39. Seminar Mencari Figur Pemimpin Ideal sebagai Solusi Krisis Keteladanan, STAN, 28 Maret 2001, sebagai pembicara
40. Talk Show Kenaikan Tarif Dasar Listrik : Antara Kebutuhan dan Resistensi dari Rakyat, Radio Tri Jaya FM, Jakarta 26 April 2001, sebagai pembicara
41. Seminar Trends in Indonesia : Visions for Indonesia Future, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore, 4 Mei 2001, sebagai pembicara
42. Seminar Nasional Tarifikasi Energi Listrik yang Adil Berdasarkan Kerangka Pikir Enjiniring dan Pengaruhnya Pada Pengembangan Industri, ITB, Bandung, 9 Mei 2001. sebagai pembicara
43. Seminar Nasional Tarif Dasar Listrik 2001 (TDL - 2001) yang Ekonomis, Adil dan Wajar, Fakultas Teknologi Industri ITS dan Energy Studies and Assessment Center (ESAC), Surabaya, 21 Mei 2001, sebagai pembicara.
44. Talk Show Defisit APBN, Utang Luar Negeri dan Kontroversi OPIC, Indonesia Corruption Watch, Jakarta, 28 Mei 2001, sebagai pembicara
45. Dialog Ekonomi dan Bisnis Bersama Faisal Basri MA Pengurangan Subsidi BBM dan Kenaikan TDL : Realisasi dan Dampaknya bagi Perekonomian Rakyat, 99,5 FM, Jakarta, 28 Mei 2001, sebagai pembicara
46. Rakernas Rapat Kerja Teknis Renstra 2002-2004 Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta, 5 Juni 2001, sebagai pembicara
47. Talk Show Wawasan Ristek, APBN Ristek, TVRI-KMNRT, Jakarta, 11 Juni 2001, sebagai pembicara
48. Diskusi Interaktif Percepatan Pemanfaatan Energi Terbarukan di Indonesia, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Jakarta, 13 Juni 2001, sebagai pembicara
49. Diskusi Panel Peran Partai Politik Islam dalam Penyelesaian Krisis Bangsa, PB HMI, Jakarta, 20 Juni 2001, sebagai pembicara
50. Diskusi Pertambangan Kongres Ikatan Alumni Tambang ITB 2001, Masa Depan Industri Pertambangan dalam Era Otonomi Daerah, Aula Barat ITB, Bandung 29 Juni 2001, sebagai pembicara
51. Disku
si Panel Membongkar Paradigma Transformasi Sumber Daya Blok CPP bagi Masyarakat Riau demi Pemerataan, Kemakmuran dan Keadilan, Himpunan Pelajar Mahasiswa Riau (Hipemari), Jakarta, 15 Juli 2001
52. Seminar dan Panel Diskusi Dampak Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa dengan Sistem Kontrak Outsourcing di Kontraktor Production Sharing terhadap Perusahaan Nasional/UKM, Forum Komunikasi Perusahaan Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkungan Pertamina dan Kontraktor Production Sharing, Jakarta, 18 Juli 2001, sebagai pembicara
53. Diskusi Panel Sehari Refleksi Masa Kini sebagai Umpan Balik Dalam Menyongsong BPPT 2010, BPPT, Jakarta, 22 Agustus 2001
54. Diskusi Panel Pengaruh Undang-Undang Migas terhadap Pengembangan Eksplorasi dan Eksploitasi Migas, Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan Universitas Trisakti, Jakarta 3 September 2001, sebagai pembicara
55. Seminar Houston Energy Dialogue 2001 (HED 2001), Responding to Legal Reforms in Indonesia’s Energy Sector, Bimasena dan Konsul Jenderal RI di Houston, Houston, USA 24 September 2001, sebagai pembicara
56. 117th OPEC Konference, Vienna, Austria, 26 September 2001, sebagai Anggota Delegasi Indonesia
57. Dialog Publik Kebijakan BBM 2001, Lingkaran Studi Meridian, Jakarta, 11 Oktober 2001, sebagai pembicara
58. Petroleum & Gas Management Meeting, The Implications of UU Migas 2001 on National Petroleum & Gas Industries, DPP Yayasan Hemat Minyak dan Energi (Yahemie), Jakarta 19 Oktober 2001, sebagai pembicara
59. Todays Dialogue Metro TV, Manajemen Demo yang Santun, Jakarta 23 Oktober 2001, sebagai pembicara
60. Seminar Sehari dan Talkshow, Meningkatkan Daya Tarik Investasi dalam Menghadapi Krisis Listrik di Indonesia, PT Indonesia Power, Jakarta, 24 Oktober 2001, sebagai pembicara
61. Dialog TVRI, Tarif Dasar Listrik 2001, Jakarta 31 Oktober 2001, sebagai pembicara
62. Workshop Produksi dan Pemanfaatan Batubara di Indonesia pada Era Globalisasi, Masyarakat Batubara Indonesia, Jakarta, 5 Nopember 2001, sebagai pembicara
63. Baitul Arqom Ramadhan, Wawasan Spiritual: Manajemen Kalbu dalam Islam, STIE Ahmad Dahlan, Jakarta, 1 Desember 2001, sebagai pembicara
64. Studi Islam Eksekutif, Agenda Kepemimpinan Umat dalam Era Reformasi, Badan Dakwah Islamiyah (BDI) Pertamina Balikpapan, Balikpapan, 2 Desember 2001, sebagai pembicara
65. Sarasehan Munas API (Asosiasi Panasbumi Indonesia) IV, Tarif Regional dan Desentralisasi Fiskal, API, Jakarta, 20 Desember 2001, sebagai pembicara
66. Bincang Sabtu, Wajah Politik Indonesia 2002, Radio Trijaya FM, Jakarta, 22 Desember 2001, sebagai pembicara
67. Luncheon Talk, Prospek Industri Hilir Migas di Era UU Migas Baru, Lemigas, Jakarta, 6 Pebruari 2002, sebagai pembicara
68. Seminar “The National Electrical Meeting”, Regulasi di Sektor Ketenagalistrikan, Antara Kepentingan Bisnis, Kemampuan Konsumen dan Arah Kebijakan, Carissa Specta Kreasi, Jakarta, 20 Februari 2002, sebagai pembicara
69. Monthly Gathering, Arah Kebijakan Pertambangan dan Migas Indonesia dari Perspektif DPR, Puri Consulting, Jakarta, 7 Maret 2002, sebagai pembicara
70. Seminar Nasional Musabaqoh Al-Qur’an Nasional Telkom 2002, Implementasi Ahlaq Qur’ani, Bukittinggi, 11 Maret 2002, sebagai pembicara
71. Seminar Nasional, Restropeksi Empat tahun Usia Reformasi, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM, Yogyakarta, 27 April 2002, sebagai pembicara
72. Bedah Buku, Menjadi Pemimpin Efektif Dan Berpengaruh, dan Menjadi Pribadi Sukses, Masjid Arif Rahman Hakim UI, Jakarta, 12 Mei 2002
73. Panel Dialogue, The Future of Indonesia’s Islam: The Quest for An Equilibrium, Institute of Defence and Strategic Studies, Nanyang Technological University, Singapura, 17 Juni 2002 , sebagai pembicara
74. Forum Komunikasi SDM XIV/2002 Pertamina Direktorat Manajemen Production Sharing (Pertamina Dit. MPS) - Kontraktor Production Sharing (KPS) dan Rapat Dewan Konsorsium Pendidikan Pertamina - KPS tahun 2002, Meningkatkan Kualitas Pengembangan SDM Nasional Menghadapi Industri Migas Dalam Era Globalisasi Serta UU Migas Yang Diperbaharui, Surabaya, 4 Juli 2002, sebagai pembicara
75. Di Ambang Fajar SCTV, Pengawasan Penegakan Hukum Lingkungan, 16 Juli 2002, sebagai pembicara
76. Dialog Lativi Wacana, Harga Jual Elpiji di Indonesia, 16 Oktober 2002, sebagai pembicara
77. Dialog Indonesia Baru, Menghancurkan Lingkungan Menuai Bencana, TV SWARA, 22 Oktober 2002, sebagai pembicara
78. Today’s Dialogue Metro TV, Antisipasi Dampak Kenaikan Harga BBM, 30 Oktober 2002, sebagai pembicara
79. Kupas Tuntas Trans TV, Sosialisasi Kenaikan TDL, 31 Oktober 2002, sebagai pembicara
80. Dialog, Membangun SDM yang Berkualitas Melalui Kopentensi Spiritual, Jamaah Da’wah Islamiah PT PLN Unit Bisnis Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, 31 Oktober 2002, sebagai pembicara
81. Dialog TVRI, Kenaikan BBM dan TDL, 13 Januari 2003, sebagai pembicara
82. Dialog Metro TV, Kenaikan BBM dan TDL, 14 Januari 2003, sebagai pembicara
83. Dialog Liputan 6 Sore SCTV, Kenaikan BBM dan TDL, 15 Januari 2003, sebagai pembicara
84. Dialektika Demokrasi, Kerjasama Koordinatoriat Wartawan MPR/DPR RI, TV SWARA, IFES dan RRI, Tarif BBM, TDL dan Telepon Disesuaikan atau Dibatalkan, Jakarta 24 Januari 2003, sebagai pembicara
85. Diskusi Interaktif I Good Governance Sektor Ketenagalistrikan, Pelaksanaan Good Governance di Sektor Ketenagalistrikan, Bimasena, Jakarta, 27 Januari 2003, sebagai pembicara
86. Silaturahim Tokoh dalam Qiyamullail, Muhasabah dan Doa Bersama, Persatuan Umat Islam: Apa dan Bagaimana, Jakarta, 31 Januari 2003, sebagai pembicara.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
sumber :http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/i/irwan-prayitno/index.shtml

Rabu, 25 Mei 2011

Rencana Amalan Dakwah Kampus

Secara garis besar, amalan dakwahkampus dikategrikan menjadi 4 bagian;
1. Amal Dakwi
2. Amal Siyasi (Politik)
3. Amal Fanni (Keterampilan)
4. Amal Ilmi (Akademik Profesi)
PEMBERDAYAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) SEBAGAI UPAYA
PENANGGULANGAN KEMISKINAN


D
I
S
U
S
U
N

Oleh:

NURHASANAH SIDABALOK
208121072


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah mencurahkan rahmat, membuka pikiran penulis, dan menjernihkan hati penulis sehingga dapat menyelesaikan karya tulis sederhana yang penulis beri judul:”Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai Upaya Penanggulangan Kemiskinan”. Karya tulis ini dibuat untuk memenuhi prasyarat pemilihan mahasiswa berprestasi. Banyak kendala yang penulis hadapi dalam mengerjakan karya tulis ini, namun Alhamdulillah semuanya dapat diatasi dengan bantuan berbagai pihak.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang telah ikut memberikan sumbangsih kritik dan saran dalam perampungan karya tulis ini. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada semuanya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih pada pihak yang telah membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan gagasannya demi perkembangan dunia kependidikan melalui program pemilihan mahasiswa berprestasi ini. Semoga gagasan yang penulis tawarkan, menjadi solusi alternatif bagi permasalahan kemiskinan nasional yang sudah lama berlarut- larut di tengah maksimalnya sumber daya alam di Indonesia.

Medan, 03 Mei 2011


Penulis



BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Usaha Kecil Menengah yang sering dikenal dengan UKM merupakan pangsa pasar yang perlu diperhitungkan sekarang ini. Usaha yang dirintis mulai dari level paling rendah ini ternyata berperan penting dalam upaya pengembangan perekonomian Indonesia dan kemudian memberikan sumbangsih yang luarbiasa dalam penganggulangan kemiskinan. Di Indonesia sendiri, keberadaan UKM memberikan warna tersendiri bagai masyarakat dalam memberikan peluang bagi para pengangguran dan tentunya juga bagi pemerintah dalam upaya menjalankan tanggungjawab mengentaskan kemiskinan.
Jumlah UKM di Indonesia sangat banyak. Menurut berbagai data, jumlah UKM sekitar 99 persen dari total jumlah usaha yang ada di Indonesia. Dan menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, pada 2007 jumlah UKM (termasuk usaha mikro) mencapai 49,82 juta unit. Angka ini naik signifikan pada tahun 2008 menjadi 51,26 juta unit. Tentu saja hal ini memberi angin segar bagi dunia perekonomian bangsa yang selanjutnya dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam upaya penanggulan kemiskinan yang sudah menjadi permasalahan sejak dahulu.
Perhatian pemerintah kepada masyaraka miskin tentu saja menjadi hal yang sangat penting, karena selain merupakan amanah bangsa sebagaimana tertuang di dalam Pasal 34 UUD 1945, juga merupakan suatu bukti bahwa bangsa ini masih memiliki keinginan yang kuat untuk lebih maju.
Jumlah penduduk miskin (dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 31,02 juta (13,33 persen), turun 1,51 juta dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang sebesar 32,53 juta (14, 15 persen). Selama periode Maret 2009- 2010, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta (dari 11,91 juta pada Maret 2009 menjadi 11,10 juta pada Maret 2010), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta orang (dari 20,62 juta pada Maret 2009 menjadi 19,93 juta pada Maret 2010) (http://www.bps.go.id). Oleh karena itu, kehadiran UKM di tengah problematika kemiskinan ini merupakan sebuah pencerahan bagi pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan.
Namun dalam perjalanannya, berbagai persoalan masih menyelimuti UKM- UKM di tanah air. Menurut survei yang dilakukan oleh BPS menemukan sejumlah kendala yang dihadapi usaha kecil dalam mengembangkan usahanya secara ringkas, selain program adalah pemasaran, pengadaan bahan baku, teknis produksi, dan persaingan pasar. Demikian juga potensi ekspor kelompok UKM masih sangat jauh tertinggal dibandingkan usaha kelompok besar, yaitu hanya sebesar 14,76 persen berbanding 83,24 persen (Media Indonesia, 2006).
Keadaan ini menjadi problem yang sangat menyiksa dalam tubuh UKM. Jika dibandingkan dengan perusahaan besar lainnya yang menggunakan teknologi canggih, tentunya UKM akan sulit untuk bersaing di zaman teknologi seperti sekarang ini. Tidak dapat disangkal, suatu produksi yang bagus jika tidak diimbangi dengan sistem informasi serta promosi yang gencar tentu akan memperkecil peluang untuk menghasilkan keuntungan yang besar. Sebaliknya, suatu produk yang walaupun kualitasnya tidak terlalu tinggi namun sistem informasinya dan promosi yang digalakkan melalui berbagai media tentu akan lebih memberi peluang yang lebih besar untuk menghasilkan keuntungan.
Untuk itu, gagasan mengembangkan UKM berbasis TIK adalah sebagai sarana untuk memasarkan produk UKM secara luas. Kita bisa melihat produk dari perusahaan besar dimana informasi produk perusahaan tersebut sudah tersebar di mana- mana, termasuk di dunia maya. Dan tentu saja setiap orang dapat mengaksesnya dari penjuru mana saja. Namun, dibandingkan dengan produk UKM yang kualitasnya tidak kalah saing dengan produk perusahaan besar ternyata hanya dapat dinikmati oleh orang- orang di sekitar dalam lingkup yang sangat kecil. Promosi yang dilakukan oleh kedua usaha ini sangat berbeda kontras dan hasilnya, perusahaan yang memasarkan produknya dalam lingkup luas tentu akan menghasilkan keuntungan yang lebih luas pula.
Kondisi UKM yang demikian tentu saja perlu diperhatikan, bukan hanya oleh pengelola UKM itu sendiri tetapi juga pemerintah yang notabene merupakan pemegang kendali suatu usaha dalam negara baik formal maupun non formal. Melihat peranan UKM yang sangat besar mendongkrak perekonomian masyarakat, tentu saja kendala ini harus dipandang serius. Untuk itu, penulis mencoba untuk memberikan gagasan dalam upaya pengembangan UKM ini yaitu, pengembangan UKM berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Upaya Penanggulangan Kemiskinan serta diharapkan dapat meningkatkan perekonomian bangsa.
1.1.Perumusan Masalah
Adapun beberapa perumusan masalah dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi UKM di Indonesia saat ini?
2. Apakah UKM akan berkembang melalui teknologi informasi dan komunikasi?
3. Bagaimana peran UKM dalam menanggulangi kemiskinan?
1.2. Tujuan
Tujuan diadakannya penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui seberapa besar peran UKM dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
2. Untuk memberikan inovasi atas lambatnya perkembangan keberhasilan UKM sehingga mampu bersaing dengan perusahaan lainnya seiring dengan adanya sistem perdagangan bebas.
3. Untuk mengetahui efektifitas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya peningkatan promosi produk UKM.

1.3. Manfaat
Berdasarkan tujuan karya tulis, manfaat diadakannya penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan dapat menjadi informasi dalam penerapan teknologi informasi, khususnya penerapan IT terhadap pengembangan UKM di tanah air.
2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah, instansi terkait dan seluruh pelaku UKM dalam mengembangkan bisnis UKMN di era ekonomi digital sekarang ini.
3. Sebagai bahan informasi untuk penelitian maupun penulisan sejenis di masa yang akan datang.


BAB II. TELAAH PUSTAKA


2.1. Pengertian UKM
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah sebuah istilah yang mengacu pada jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Menurut Keputusan Presiden RI No. 99 tahun 1998, pengertian UKM adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan prlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan yang tidak sehat.”
Adapun kriteria UKM menurut UU No. 9 tahun 995 adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah).
3. Milik warga Negara Indonesia
4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi langsung maupun tidak langsung dengan usaha besar atau menengah.
5. Berbentuk usaha orang perorang, badan usaha yangn tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi (http://id.wikipedia.org).
Dengan demikian, kita dapat mendefinisikan UKM sebagai suatu usaha yang dikerjakan oleh beberapa orang di suatu daerah tertentu dimana usaha itu merupakan usaha individu dan bukan lembaga formal. Dalam mengawali perjalanannya dalam dunia usaha, pengelola UKM biasanya fokus dalam satu bidang usaha dengan modal dan pekerja dengan jumlah sedikit. Sebagai usaha kecil yang masih baru di dunia usaha, tentu saja sebuah UKM memerlukan perlindungan dari pemerintah di tengah kerasnya persaingan pasar dalam dunia usaha.
Keberlangsungan suatu UKM tentu saja memberikan nuansa yang berbeda diantara berbagai badan usaha lainnya, baik formal maupun non formal. Pemerintah semakin menyadari akan manfaat yang diberikan UKM dalam upaya memperbaiki perekonomian bangsa. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh UKM itu sendiri. Satu hal yang mungkin membuat UKM berbeda dengan bentuk usaha lainnya adalah tenaga kerja yang dibutuhkan. Jika kita berbicara tentang sebuah perusahaan besar, maka yang banyak bekerja adalah mesin- mesin teknologi yang memudahkan kerja mereka. Sebaliknya, ketika melihat dunia UKM maka pemanfaatan tenaga kerja manusia lebih dominan dibandingkan dengan tenaga mesin. Hal ini tentu saja akan mengurangi angka pengangguran yang hari ini merupakan permasalahan rumit yang tidak kunjung berakhir.
Selain itu, UKM juga merupakan pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis.
2.2. Perkembangan UKM di Indonesia
Jumlah UKM di Indonesia sangat banyak. Menurut berbagai data, jumlah UKM sekitar 99 persen dari total jumlah usaha yang ada di Indonesia. Dan menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, pada 2007 jumlah UKM (termasuk usaha mikro) mencapai 49,82 juta unit. Angka ini naik signifikan pada tahun 2008 menjadi 51,26 juta unit. Tentu saja hal ini memberi angin segar bagi dunia perekonomian bangsa yang selanjutnya dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam upaya penanggulan kemiskinan yang sudah menjadi permasalahan sejak dahulu.
Berdasarkan hasil survei dan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UKM terhadap PDB (tanpa migas) pada tahun 1997 tercatat sebesar 62,71 persen. Kontribusi tersebut bertumbuh setiap tahun sekitar 0,21 persen sehingga pada tahun 2002 naik menjadi 63,89 persen. Kontribusi usaha besar pada tahun 1997 hanya 37,29 persen dan tahun 2002 turun lagi menjadi 36,11 persen.
Untuk kuantitas unit usaha kecil pada tahun 1997 tercatat sebanyak 39.704.661 unit atau 99,84 persen dari total jumlah unit usaha yang ada di Indonesia. Pada tahun 1998, jumlah tersebut sempat turun menjadi 36.761.689 unit. Masuk pada tahun 1999, kelompok di unit usaha tersebut terus meningkat dan pada tahun 2002 menjadi 41.301.263 unit. Angka tersebut mewakili 99,85 persen dari jumlah unit usaha yang ada di Indonesia.
Jumlah usaha menengah pada tahun 1997 sebesar 60.449 (0,15%). Pada tahun 1998 sampai 2001, jumlah ini terus menurun. Namun, pada tahun 2002 jumlah pengusaha yang masuk klasifikasi sebagai pengusaha menengah meningkat menjadi 61.052 unit. Jumlah usaha besar pada tahun 1997 tercatat hanya 2.097 unit (0,01%) dan pada tahun 2002 naik menjadi 2.198 unit. Sementara itu, daya serap tenaga kerja UKM dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Pada tahun 1997, UKM menyerap sebesar 99,4 persen tenaga kerja dari total lapangan kerja di Indonesia. Pada tahun 2002, angka tersebut meningkat lagi menjadi 99,74 persen (http://els.bappenas.go.id).
2.3. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Ada beberapa pengertian TIK oleh beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut:
1. Menurut Eric Deeson, Harper Collins Publishers, Dictionary of Information Technology, Glasgow,UK,1991
“Information Technology (IT) the handling of information by electric and electronic (and microelectronic) means.”Here handling includes transfer. Processing, storage and access, IT special concern being the use of hardware and software for these tasks for the benefit of individual people and society as a whole.”
Dari penjelasan di atas dapat diartikan bahwa teknologi informasi adalah kebutuhan manusia didalam mengambil dan memindahkan, mengolah dan memproses informasi dalam konteks sosial yang menguntungkan diri sendiri dan masyarakat secara keseluruhan.
2. Menurut Puskur Diknas Indonesia, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi.
a. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.
b. Teknologi Komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

Menurut Susanto ( 2002 ), informasi merupakan hasil dari pengolahan data namun tidak semua hasil dari pengolahan tersebut dapat menjadi informasi.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media.
Jadi pengertian TIK adalah sebuah media atau alat bantu yang dapat digunakan untuk mentransfer data, baik menerima informasi maupun dalam memberikan informasi kepada orang lain yang dalam prakteknya sangat berperan dalam kelancaran komunikasi, satu maupun dua arah. Beranjak dari pengertian TIK tersebut tentu saja sebuah UKM memerlukan alat ini dalam hal pencarian informasi seputar perkembangan produk yang sedang dikerjakan serta memberikan informasi kepada khalayak ramai terkait produk UKM yang akhirnya pemasaran akan berjalan lancar. Bukan hanya itu, ketika sebuah UKM berbasis TIK maka kinerja dan pelaksanaannya akan semakin mudah melalui komunikasi dengan pelanggan melalui media tanpa harus memakan waktu lama untuk bertemu langsung.
2.4. Konsep Kemiskinan
Secara umum kemiskinan lazim didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan antara lain tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi geografis, gender, dan kondisi lingkungan.
Definisi beranjak dari pendekatan berbasis hak yang menyatakan bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau kelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum adalah terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hal-hal untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik baik perempuan maupun laki- laki.

Parameter yang lazim digunakan para analis dalam menetapkan jumlah kemiskinan adalah lebih cenderung pada pendekatan pemenuhan kebutuhan pokok. Dari hal ini, seseorang dikatakan miskin manakala dalam pemenuhan kebutuhan pokoknya yakni makanan, asupan kalorinya minimal 2.100 kkal/hari per kapita. Selain dengan pendekatan asupan kalori, kemiskinan juga diukur dengan menambahkan parameter pemenuhan kebutuhan pokok/dasar non makanan yang meliputi pendidikan, sandang, dan hal- hal yangtelah dikemukakan sebelumnya. Dari sini, dapat kita katakan bahwa dalam menentukan kemiskinan terdapat variabel pokok yang tidak bisa dilupakan yakni yang terkenal dengan istilah gari kemiskinan (GK). Garis kemiskinan ini terbagi menjadi dua yakni Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Adapun komponen dari masing-masing indikator adalah GKM lebir berbasis pada pendekatan pemenuhan asupan kalori sebesar 2.100 kkal/hari per kapita. Sedangkan komponen GKBM seperti pendidikan, kesehatan, pangan.

Sebagian orang beranggapan bahwa kemiskinan hanya berkaitan dengan persoalan materi atau harta benda saja. Selanjutnya kemiskinan dilihat sebagai antonim dari keberlimpahan atau kegemerlapan harta benda. Sebagai konsekuensi dari anggapan ini, di tengah-tengah masyarakat dapat ditemukan sebuah persepsi yang keliru, yakni melihat keberadaan orang miskin atau kemiskinan sebagai suatu yang niscaya, yakni memenuhi tuntutan keseimbangan hidup dimana si kaya harus senantiasa disertai si miskin. Lebih jauh kita juga dapat mendengar ungkapan bahwa kemiskinan akan lebih mendekatkan manusia kepada kesejatian hidup (hal ini tentu tidak bermaksud menyinggung kepercayaan suatu agama yang memposisikan kemiskinan sebagai jalan menuju ke surga).
Meski sebagian pemikir telah mengingatkan agar kita tidak terlalu lama berkutat hanya dalam mendefinisikan sesuatu, tampaknya dibutuhkan sebuah definisi kemiskinan yang lebih jelas agar kita tidak terjebak pada keyakinan seperti di atas. Dalam pembicaraan stratifikasi sosial kita mengenal tiga kelompok manusia ditinjau dari tingkat kesejahteraan hidupnya, yakni miskin (pra-sejahtera), sederhana (pra-sejahtera-1), dan kaya (sejahtera). Namun, hampir tidak ada seorang manusia pun yang dengan berani mengatakan ia adalah orang kaya atau bukan orang miskin.
Ini terjadi karena setiap orang memiliki cara pandang tersendiri terhadap kemiskinan, dimana mayoritas masih melihat kemiskinan hanya sebatas persoalan kekurangan harta benda. Padahal, selama kemiskinan belum dapat dipahami secara benar, maka upaya penaggulangannya pun tidak dapat dirumuskan secara baik, sebab kejelasan masalah akan sangat menentukan upaya penyelesaiannya.
2.5. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia

2.5.1. Tahun 2008- 2009
Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2008 sebesar 34,96 juta orang (15,42 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang berjumlah 32,53 juta (14,15 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,43 juta.
Jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan turun lebih tajam dari pada daerah perkotaan. Selama periode Maret 2008-Maret 2009, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1,57 juta orang, sementara di daerah perkotaan berkurang 0,86 juta orang (Tabel 2).
Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada periode Maret 2008 – Maret 2009, perubahan persentase penduduk miskin di perkotaan sebesar 0,93 persen, dan di perdesaan mencapai 0,58 persen.
Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode Maret 2008-Maret 2009 nampaknya berkaitan dengan faktor-faktor berikut:
1. Selama periode Maret 2008-Maret 2009 inflasi umum relatif stabil (Maret 2008 terhadap Maret 2009 sebesar 7,92 persen)
2. Rata-rata harga beras nasional (yang merupakan komoditi paling penting bagi penduduk miskin) selama periode Maret 2008-Maret 2009 pertumbuhannya lebih rendah (7,80 persen) dari laju inflasi.
3. Rata-rata upah riil harian buruh tani (70 persen penduduk miskin perdesaan bekerja di sektor pertanian) naik 13,22 persen dan rata-rata upah riil buruh bangunan harian naik sebesar 10,61 persen selama periode Maret 2008-Maret 2009.
4. Selama Subround I (Januari-April) 2009 terjadi panen raya. Produksi padi Subround I 2009 mencapai 29,49 juta ton GKG (hasil Angka Ramalan II 2009), naik sekitar 4,87 persen dari produksi padi Subround I 2008 yang sebesar 28,12 juta ton GKG.
5. Pada umumnya penduduk miskin bekerja di subsektor pertanian tanaman pangan dan perikanan (nelayan). NTP di kedua subsektor tersebut selama periode April 2008-Maret 2009 mengalami kenaikan yaitu naik sebesar 0,88 persen untuk subsektor tanaman pangan dan naik sebesar 5,27 persen untuk subsektor perikanan (nelayan). Di subsektor tanaman pangan indeks harga jual petani (It) naik sebesar 10,95 persen, sementara indeks harga beli petani (Ib) naik 9,98 persen. Di subsektor perikanan indeks jual petani (It) naik sebesar 15,47 persen sementara indeks beli petani (Ib) hanya naik sebesar 9,70 persen.
6. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga triwulan I tahun 2009 (angka sangat­sangat sementara) meningkat sebesar 5,84 persen terhadap triwulan I tahun 2008 (angkasangat sementara).


III. METODE PENULISAN
Dalam karya tulis ini metode yang digunakan adalah metode perspektif atau pendekatan, yaitu dengan melihat bagaimana perkembangan UKM yang ada di Indonesia dan perannya dalam upaya penanggulagan kemiskinan nasional. Objek kajian dalam penulisan ini adalah UKM yang telah tersebar di berbagai penjuru tanah air, khususnya daerah Jawa barat dimana maraknya UKM yang berdiri dengan kondisi yang berbeda- beda.
Sedangkan dalam pengumpulan data-data yang mendukung dalam karya tulis ini adalah dengan studi pustaka, hasil investigasi dan dokumen-dokumen elektronik yang relevan peran UKM dalam penanggulangan kemiskinan nasional, masalah yang dihadapi oleh UKM, minimnya pengetahuan pengusaha UKM tentang teknologi informasi, dan cara pengembangan UKM melalui teknologi informasi dan komunikasi. Selanjutnya, akan diperoleh peningkatan peran UKM dalam menyongsong kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.
Untuk pengolahan data tentang angka kemiskinan di Indonesia didasarkan pada pengolahan data Badan Pusat Statistik (BPS). Selain itu, penulis juga menggunakan analisis sintesis untuk dapat menghasilkan kesimpulan yang tepat disesuaikan dengan masalah yang dihadapi dan gagasan yang diberikan. Dengan demikian, gagasan ini diharapkan mampu menjadi solusi yang tepat atas permasalahan lambatnya perkembangan UKM di tanah air.



IV. ANALISIS DAN SINTESIS
4.1. Analisis
4.1.1. Kondisi UKM di Indonesia
Perkembangan UKM semakin menjamur di berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran usaha ini tentu saja membawa angin segar bagi perkembangan perekonomian bangsa di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak tahun 2000. Secara umum, rata- rata pertumbuhan UKM tahun 1990- 2001 adalah 3%, rata- rata pertumbuhan pekerja 18,8 %, dan rata- rata pertumbuhan PDB sebanyak 2,5 %. (Aloysius: 2003). Tidak bisa dipungkiri, keberadaan UKM mampu memberikan banyak kesempatan kepada para pengangguran untuk dapat berkarya dan menghasilkan sesuatu yang akhirnya dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dan satu hal lagi, UKM yang ada saat ini merupakan sektor ekonomi terbesar di negara Indonesia. Hal ini terbukti dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja dalam sektor UKM mencapai 99,448 % dari total pekerja nasional dan mampu memberikan sunmbangan hingga 55,1 % kepada PDB nasional.
Tingginya motivasi masyarakat Indonesia untuk memiliki usaha sendiri merupakan hal yang patut dibanggakan. Masyarakat semakin menyadari bahwa betapa minimnya lapangan pekerjaan formal yang disediakan bagi mereka sehingga menuntut adanya kemauan untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan akhirnya mampu membuka lapangan pekerjaan kepada para pengangguran. Hadirnya UKM dalam kancah perekonomian hendaknya mendapat perhatian penuh dari pemerintah mengingat besarnya manfaat usaha ini dalam perkembangan perekonomian bangsa.
Dalam perjalanannya, didapati bahwa perkembangan UKM di tanah air terkesan lambat. Hal ini disebabkan ketertinggalan dalam mengadopsi teknologi informasi di dalam bisnisnya. Jika dibandingkan dengan perusahaan- perusahaan besar, mereka senantiasa memiliki kepedulian terhadap penggunaan teknologi baru dalam menunjang bisnisnya. Tidak bisa dipungkiri, keterbatasan modal dan pengetahuan teknologi yang minim merupakan penghambat utama dalam perkembangan UKM di tanah air. Dengan kata lain, sistem yang digunakan oleh UKM di Indonesia masih sistem yang tradisional sementara saat ini zaman sudah semakin canggih disertai dengan keberadaan teknologi yang modern. Maka tentu sangat minim peluang untuk mampu bersaing di dunia usaha jika sistem ini tetap dipertahankan. Oleh karena itu, penulis memberikan sebuah gagasan berupa pelatihan teknologi informasi kepada para pengusaha UKM yang diharapkan kelak mampu memperbaiki sistem yang ada dan selanjutnya mampu menjadikan UKM unggul di tengah perusahaan- perusahaan besar lainnya.
Sementara itu, komitmen bangsa Indonesia dalam menyepakati era globalisasi AFTA maupun WTO menuntut penyikapan sedini mungkin oleh semua pihak, termasuk pelaku UKM yang memiliki potensi-potensi yang belum tergali secara optimal. Potensi UKM yang belum berkembang secara optimal ini tidak dapat menjamin apakah akan mampu bertahan (survive) di era pasar bebas. UKM harus senantiasa didorong dan mengatasi berbagai kelemahannya agar mampu bersaing dan tidak jatuh tertindas oleh kompetitor dari negara luar.
Menyikapi hal di atas, salah satu kesepakatan deklarasi G-15 di Indonesia, adalah bahwa UKM perlu difasilitasi dalam liberalisasi perdagangan dan investasi untuk segera beradaptasi terhadap kecenderungan globalisasi serta perlu difasilitasi dengan optimalisasi sistem informasi dan aplikasi e-business sehingga akan mempunyai daya saing global (http://portalukm.com).
Era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang berkembang sangat cepat telah memaksa kita mempersiapkan diri mau tidak mau untuk masuk dan menjadi bagian aktif dari masyarakat ekonomi-informasi. Internet economy’ mendorong globalisasi dan “networking” dunia usaha. Kondisi di atas menjadikan pasar dan perdagangan makin terbuka tanpa batas, serta peluang yang setara bagi pelaku-pelaku bisnis tidak mengenal apakah berasal dari pengusaha besar, menengah, atau pun kecil, siapa yang cepat akan menang atau dikenal dengan “time-to-market” atau “economic of time”. (Muhammad Nadzif, 2001).
4.2. Sintesis
4.2.1. Teknologi Informasi dan Komunikasi di Dunia UKM
Tidak bisa dielakkan lagi perkembangan teknologi dan informasi berimbas pula pada keberlangsungan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pola produksi, promosi, pengembangan usaha dan segala hal yang berkaitan dengan siklus bisnis UKM langsung maupun tidak langsung akan semakin memerlukan dukungan teknologi dan informasi. Hal ini semakin menguatkan perlunya pemahaman dan penguasan TI bagi pelaku UKM. Karena itulah penting bagi pemerintah dan lembaga-lembaga lain untuk mengupayakan pelaku UMKM melek teknologi dengan memberikan pelatihan bidang teknologi informasi sehingga mereka bisa memanfaatkannya dalam produksi, pemasaran, dan pengembangan usaha mereka.
Dalam upaya mencapai target tersebut, pemerintah melalui BPPT bekerja sama dengan Kantor Menko Perekonomian, memberikan berbagai pelatihan kepada pengusaha tersebut di Pusat Inovasi (PI) UMKM.
Menurut Kepala BPPT ,Marzan Aziz Iskandar, melalui berbagai pelatihan tersebut, BPPT menargetkan pelaku UKM yang berbasis teknologi dan menjadi inovator. “Jadi mereka bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam usaha merekam seperti bagaimana cara menjual produk lewat online, bagaimana merancang strategi pemasaran, memproduksi, dan lainnya,” ujarnya (http://galeriukm.web.id).
4.2.2. Implementasi Cyberpreneur (Bisnis Online)
Saat ini dengan adanya jaringan internet dan aplikasi-aplikasi yang mendukung kita untuk berinteraksi atau berbisnis itu tidak harus bertatatap muka langsung dengan rekanan, dan juga sangat mungkin meninggalkan pemikiran lama bagaimana cara membuat suatu usaha itu harus menggunakan modal yang besar, sehingga dengan memaksimalkan jaringan internet yang ada kita dapat menjadi seorang enterpreneur yang tanpa mengenal tempat, jarak dan waktu dalam menjalankan usaha atau bisnis.
Seorang cyberpeneur atau infopreneur adalah mereka yang kreatif menggunakan data dan informasi yang tersedia untuk menghasilkan informasi baru, mengelola dan menyebarluaskan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi pemakainya. Ia juga mempunyai visi, dapat mengembangkan kandungan informasi secara inventif dengan menggunakan media teknologi informasi.
Untuk mengaplikasikan konsep cyberpreneur maka dibutuhkan adalah website dan blog. Memiliki website atau blog sebagai sarana pemasaran secara online adalah suatu keharusan. Karena dengan memiliki website, membuat usaha atau bisnis UKM dapat diketahui selama 24 jam sehari. Salah satu strategi pemasaran yang penting dari web adalah anda dapat menjelaskan secara rinci produk dan jasa yang dijual. Selain itu kita dapat membujuk pengunjung untuk membeli produk atau jasa anda. Oleh karena itu website UKM hendaknya menyajikan informasi yang berguna, memiliki traffic yang tinggi, aplikasi memasarkan produk dan adanya search enginge yang bersahabat.
Meski toko online hanya menyumbang sedikit saja dari sisi transaksi namun toko online memberi andil yang cukup besar dalam pencitraan. Hal ini disesuaikan dengan karakteristik pembeli di Indonesia yang suka menawar. Selain itu harga yang dipajang pada toko online bhinneka dengan harga yang lebih tinggi dari toko. Dengan mekanisme tawar menawar ini diharapkan mampu menaikkan transaksi pada toko online. Bisnis Grosir Baju Murah yang merupakan sebuah usaha penjualan pakaian yang dipromosikan lewat internet. Keberadaan toko online ini memudahkan pembeli untuk memilih dan melakukan penawaran terhadap barang yang dipasarkan. Selain promosi yang yang sangat menarik, berbagai pilihan produk juga dapat dinikmati dari toko ini.
Kehadiran toko online sangat penting bagi UKM yang ingin memanfaatkan online untuk memasarkan produknya. Melalui toko online sendiri, UKM dapat meningkatkan kredibilitas sekaligus memudahkan konsumen ketika ingin membeli produk. Saat ini sudah tersedia perangkat untuk menghubungkan produk yang diupload di toko online dengan sosial media seperti facebook dan twitter. Pastikan perangkat tersebut telah dipasang di toko online anda. Dengan demikian, informasi produk akan lebih mudah disebarkan dan dapat diakses oleh seluruh pengunjung internet dari penjuru dunia.



PENUTUP
1. Kesimpulan
Keberadaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di tanah air merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Semakin maraknya usaha ini secara tidak langsung telah membantu pemerintah untuk menanggulanngi massalah kemiskinan yang tidak kunjung selesai. Bahkan, UKM merupakan sumber perekonomian yang cukup besar dibandingkan dengan lembaga- lembaga formal lainnya.
Tidak bisa dipungkiri, berbagai permasalahan selalu menimpa UKM- UKM yang telah berdiri mulai dari level yang paling rendah. Jatuh bangun adalah hal yang biasa dalam suatu usaha, namun yang paling penting adalah kesungguhan untuk terus berupaya menjadi lebih baik. Seperti halnya juga dengan UKM yang saat ini memiliki banyak masalah. Persaingan yang harus diikuti dengan berbagai perusahaan besar lainnya tentu menjadi hal yang perlu diperhatikan, apalagi dalam era persaingan bebas. Permasalahan yang sampai saat ini membuat UKM sulit untuk berkembang adalah lemahnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dimiliki oleh suatu UKM. Hal tersebut menyebabkan sempitnya pasar yang mampu dijangkau oleh usaha ini.
Oleh karena itu, pengetahuanTIK hadir sebagai sebuah solusi untuk menanggulangi permasalahan yang dihadapi UKM di tanah air. Dalam kegiatannya, pengelola UKM akan diberikan pemahaman akan pentingnya TIK dalam menunjangn keberhasilan usaha mereka. Dengan pemahaman yang baik, pengelola UKM akan diberikan pengetahuan terkait dengan TIK khususnya dalam hal pemasaran dan promosi produk di dunia maya, yaitu dengan membuat toko online.

2. Saran
a. Sebaiknya para pengelola UKM memahami perkembangan teknologi saat ini sehingga konsep pemasaran dan promosi produk yang dilaksanakan tersebar luas dan menarik di kalangan pembeli.
b. Sebaiknya pemerintah membantu para pengelola UKM dalam hal pendanaan serta berbagai pelatihan TIK agar dapat bertahan dalam persaingan pasar yang cukup sengit.
c. Diharapkan kepada seluruh komponen masyarakat untuk saling bahu- membahu dalam pengembangan UKM berbasis TIK sehingga angka pengangguran dapat diminimalisr dan akhirnya permasalahan kemiskinan dapat teratasi.











DAFTAR PUSTAKA
Fahmlarto, Anjang. “Ramai- ramai Kembangkan Software UKM.” http://www.mediacenterkopukm.com. Diakses: 29 April 2011
“Strategi Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia.” http://www.bappenas.go.id. Diakses: 26 April 2011
“Profil Kemiskinan di Indonesia.” http://www.bps.go.id. Diakses: 26 April 2011
“Implementasi Cyberpreneurship sebagai Upaya Meningkatkan Pemasaran Produk UKM Sulawesi Selatan.” http://www.makassarpreneur.com. Diakses: 27 April 2011
“Peran Strategis Teknologi IT Bagi Pengembangan UKM .” http://galeriukm.web.id. Diakses: 27 April 2011
“Belanja Online Lewat Gerai UKM.” http://diskumkm.jabarprov.go.id. Diakses: 01 April 2011
“Strategi Pemasaran UKM Melalui Media Sosial Online.” http://www.duniavirtual.com. Diakses: 01 April 2011
“Pemanfaatan Social Media Bagi UKM.” http://www.juale.com. Diakses: 01 April 2011

Umber

Rabu, 18 Mei 2011

Selamat Datang Di Blog FORSIS

Forum Studi Islam Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (FOSIS FIP UNP) merupakan Lembaga tempat mempelajari dan lahan praktek Islam secara komprehensif bagi mahasiswa Ilmu Pendidikan Unp. Forum Studi Islam di sebut Juga Dakwah Di kampus yang telah Melembaga (Lembaga Dakwah Kampus - LDK)

Forum Studi Islam merupakan Lembaga legal Formal berdasarkan keputusan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan tahun 2007 dan dibina oleh beberapa dosen dari fakultas Ilmu Pendidikan.

Secara keorganisasian Mahasiswa (ORMAWA) FORSIS FIP UNP merupakan Badan Semi Otonom dibawah naungan Badan Eksekutif Mahasiswa BEM FIP UNP.

Forum Studi Islam merupakan Forum belajar dan wadah kreatifitas terbuka bagi seluruh mahasiswa FIP UNP, disamping merupakan lembaga Syiar Islam di kampus FIP UNP

Dalam pelaksanaannya FORSIS FIP UNP cenderung menjalankan aktivitas2 ajakan terhadap civitas Akademika FIP UNP kepada Allah dengan cara yg benar menuju cahaya Islam (Dakwah)

tujuan Lembaga dakwah Kampus
(LDK)FORSIS FIP UNP Adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam serta Optimalisasi peran kampus dalam mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Relegius Islami, yang dalam Hal Ini sejalan Dengan VI dar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang-FIP UNP.